Mitos-Mitos Seputar Software Engineering

By | 22/12/2019

Mitos-Mitos Seputar Software Engineering – Dengar kata mitos kemungkinan yang pertama-tama dalam pikiran kita ialah narasi mistis atau horor disuatu tempat. Tetapi nyatanya di dunia eksperimen piranti lunak memilikinya. Meskipun sekedar hanya mitos tapi ada banyak yang mempercayainya sebab dengan selintas terdengar logis. Serta kadang sedikit terdapat faktor kebenaran didalamnya meskipun mempunyai kebimbangan. Berikut ini keterangan tentang mitos-mitos sekitar software engineering yang bisa dibagi jadi 3 bagian :

Mitos-Mitos Seputar Software Engineering

  1. Mitos Manajemen.
  2. Mitos Konsumen.
  3. Mitos Pegiat.

Mitos-Mitos Seputar Software Engineering

Mitos : Kita tak perlu merubah pendekatan pada peningkatan software. Sebab type pemrograman yang kita kerjakan saat ini telah kita kerjakan 10 tahun yang kemarin.

Kenyataan : Walaupun hasil program sama, produktivitas serta kualitas software harus dinaikkan dengan memakai pendekatan software developments.

Mitos : Kita telah memiliki buku yang berisi standarisasi serta mekanisme untuk pembentukan software.

Kenyataan : Memang buku itu ada, tapi apa buku itu telah dibaca atau buku itu telah tertinggal zaman (out of date)

Mitos : Bila kita ketinggalan dari agenda yang diputuskan, kita meningkatkan beberapa programmer saja. Ide ini seringkali disebutkan Mongolian harde concept.

Kenyataan : Mengambil lebih beberapa orang baru pada proses pengerjaan piranti lunak akan membuat waktu penyelesaian lebih lama. Sebab orang lama harus menuntun orang baru hingga waktu yang dipakai dalam babak peningkatan produksi akan makin sedikit.

Mitos : Pengakuan arah umum cukup sudah untuk mengawali tulisan program. Keterangan yang lebih detil akan mengejar setelah itu.

Kenyataan : Pengertian awal yang jelek ialah pemicu penting ketidakberhasilan pada usaha-usaha pem­bentukkan software. Keterangan yang resmi serta terperinci mengenai info peranan performance interface, kendala design serta persyaratan validasi ialah penting. Karakter di atas bisa dipastikan cuma sete­lah terdapatnya komunikasi di antara konsumen serta developer.

Mitos : Keperluan project yang terus-terusan beralih bisa dengan gampang ditangani sebab software itu berbentuk fleksibel.

Kenyataan : Sebenarnya memang benar jika keperluan software beralih, tapi efek dari peru­bahan berlainan dari sekian waktu.

Mitos : Tidak ada cara untuk analisa disain serta testing pada satu pekerjaan. Cukup ke arah ke depan terminal serta mulai coding.

Kenyataan : Cara untuk analisa design serta testing dibutuhkan dalam peningkatan software.

Mitos : Selekasnya sesudah software dipakai, perawatan bisa diminimalisasikan serta ditangani dengan “CATCH AS CATCH CAM”.

Kenyataan : Dibutuhkan anggaran yang besar dalam pemeliharaan software. Perawatan software harus diorganisir, diperkirakan serta dikendalikan seakan-akan jadi satu project besar dalam satu or­ganisasi.

Sebetulnya ada banyak mitos-mitos sekitar software engineering yang perlu kita mengerti supaya tidak lakukan kekeliruan nanti. Demikian artikel mengenai mitos – mitos sekitar software engineering, mudah-mudahan berguna. Sampai jumpa di artikel seterusnya.

Tinggalkan Balasan