Home / Tip & Trik / Ini Ladang Saya

Ini Ladang Saya

Sahabat Belajar IT. Hari ini saya akan berbagi cerita, dimana endingnya saya manfaatkan untuk sebuah kuis. Silakan dibaca dengan hati-hati dan senyum lebar.

Ini Ladang saya, tempat mencari mencari nafkah, mendapatkan uang, rejeki saya dari sini. Teriak Rio kepada beberapa temannya yang juga satu profesi dengannnya. Sebenarnya ladang ini bukan miliknya seorang, akan tetapi, ia sering mengasumsikan demikian.

Rio adalah seorang guru di salah satu Sekolah Swasta di Jakarta. Dia mengampu mata pelajaran TIK. Dia hampir 15 tahun mengabdi di Sekoah ini, patut saja jika beberapa temannya. Apalagi jika orang baru datang, sudah pasti mereka tidak berani menolak perintahnya.

Zidni adalah sahabat dekat Rio. Dia mencoba berbagi pengalaman selama bersahabat dengannya, berbagi cerita mengenai pribadi Rio kepada kami, yang juga mempunyai hak atas ladang tersebut. Rio, dia adalah pribadi yang baik, namun ia sangat pandai berhitung. Termasuk menghitung berapa uang yang harus ia terima, ketika ia berhasil membersihkan ladangnya”.

Sumber Gambar

Serontak semua yang mendengarkan cerita dari Zidni kaget. Tentu saja Zidni tidak ada maksud menjelekkan Rio, ia hanya sekedar berbagi cerita, supaya sahabat yang lain tidak heran ketika Rio bertingkah seperti itu.

Posisi seorang Rio, sang pemilik ladang, hampir sama dengan posisi seorang buruh tani. Di mana seorang buruh tani akan menjaga dan merawat sawahnya dengan baik. Buruh sawah biasanya akan mendapatkan sepertiga atau seperempat dari hasil bumi yang dipanen. Begitu juga dengan Rio, Rio juga akan mendapatkan upah yang sesuai standard dari Sekolah, sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati masing-masing pihak.

Ini Ladang saya, saya di sini seorang guru. Tugas seorang guru adalah mengajar. Jadi, jika ada barang yang hilang, kerusakan, ruang kotor dan manintenance, itu bukan tanggungjawab saya. Kalaupun saya ditugaskan untuk maintenance, harus ada upah tersendiri, diluar upah wajib”. Jelas Rio kepada beberapa sahabatnya dan Bapak Kepala Sekolah di sebuah ladang.

PERTANYAAN:

Selang beberapa minggu, kira-kira apa yang terjadi di ladang tersebut? Apakah Bapak Kepala Sekolah bangga terhadap anak buahnya yang seperti Rio?

Silakan Anda mengamati cerita di atas, kemudian dianalisis menggunakan hati nurani masing-masing. Saya yakin, setiap pribadi mempunyai penilaian dan pandangan tesendiri dalam menyikapi dan menganalisa sebuah cerita.

Tulis jawaban Anda pada kolom komentar di bawah. Akan dipilih empat jawaban, yang “setidaknya” mendekati jawaban sesungguhnya dari Bapak Kepala Sekolah. Komentar yang mengandung unsur “jawaban” akan dikarantina terlebih dahulu oleh Bapak Kepala Sekolah. 😛 Ada hadiah kecil untuk Anda:

  • Sebuah Buku Manusia Kaya Arti
  • Pulsa 20k
  • Pulsa 10k
  • Pulsa 5k

 

Persyaratan :

  • Boleh diikuti siapa saja 
  • Like fanpage Belajat IT
  • Jawaban di tunggu mulai detik ini

Selamat menganalisa dan menjawab dengan “HATI”. Saya tunggu jawaban Anda sampai hari Minggu, Pukul. 18.00 WIB.  ^_*

Sponsor by:

About Idah Ceris

Check Also

Tips Mencegah Pencurian PIN ATM

Ceristekno – PIN ATM adalah kode yang sangatlah penting yang harus kamu jaga, jangan sampai …

43 comments

  1. Pakdhe Cholik

    Ladang itu akan dialihkan kepada orang lain.

    Jika saya jadi kepala Sekolah saya tidak respek padanya, apalagi bangga.
    Guru seperti itu tak bisa menjadi contoh teladan bagi orang lain.
    Jika itu dianggap ladangnya seharusnya dia “, harumongso melu handarbeni lan harumongso melu hangrungkebi”. Dia harus merasa memiliki dan mau merawat serta menjaganya.

    Salam hangat dari Surabaya

  2. ladang itu akan beralih menjadi milik zidni, karena dia menjaganya dengan sepenuh hati meskipun pada awalnya itu ladang roni. sedikit demi sedikit upah dari ladang itu zidni kumpulkan untuk membeli ladang roni itu.
    sedangkan kalau saya menjadi kepala sekolah justru tidak respect dengan Roni yang terkesan arogan dengan apa yang ditugaskan padanya. Seharusnya bisa menjadi teladan bagi yang lain dengan bersikap rendah hati bukan tinggi hati dan harus tunduk dengannya. Mengemban tugas dengan hati dan mau berbagi serta mensejajarkan kedudukan sekalipun dengan junior. Bukan menjadi “ini lho aku yang paling…” tetapinmerangkul semua pihak dan yang paling penting juga mampu menjaga yg jadi tanggungjawabnya.

    *ini versi saya*

  3. Fikri El Frana

    Dengan Hati yah 🙂

    menganalisa kasus diatas dan coba untuk berfikir tentang jawaban kelanjutan ladang tersebut serta reaksi bapak kepala, memang cukup rumit, namun ada clue yang mempermudah yaitu “menjawab dengan hati nurani”

    hati adalah tempat dimana perasaan sejujurnya hadir, ketika membaca penjelasan mengenai siapa itu Rio, maka terlihat kesan Egois, Matrealistis, dan Senioritas. jika ditanya bagaimana kelanjutan dari ladang tersebut, saya yakin ladang tersebut akan tetap lanjut, jika dilihat dari masalah, dimana Rio seorang yang senioritas dia sudah 15 tahun, suka menyuruh-nyuruh orang baru, bagi saya sendiri itu sebuah hal sepele, perbandingan jarak yang jauh tentunya.

    kesan egois tercipta ketika Rio bilang “saya disini seorang guru” kalimat tersebut menekankan bahwa saya tidak perlu mengerjakan apapun selain mengajar. bagi saya sah sah saja memang, tapi jika menelisik dengan hati nurani, kalimat tersebut tentu membuat kesal teman-temannya di ladang tersebut.

    letak matrealistis terdapat pada kalimat, “harus ada upah tersendiri, diluar upah wajib”. tentu hal ini tidak perlu saya jelaskan, bukan. sudah jelas asumsinya adalah $$$$

    jika melihat kasus yang ada, dan membaca bagaimana tanggapan kepala sekolah. ini dia :

    sudah saya jelaskan di awal bahwa Ladang tersebut akan tetap berjalan, Rio akan tetap disana dan mengajar. kepala sekolah tentu tidak akan mengambil langkah aneh dengan mengeluarkan Rio karena alasan Matre dan Egois. apalagi dia sudah 15 tahun mengajar, waktu yang tidak sebentar. Rio pasti sudah faham betul bagaimana kondisi ladang tersebut. urusan mantenance serta hal-hal lain, sebenarnya memang ada jalurnya masing-masing. pada dasarnya hal tersebut memang harus ada upah di luar upah pokok. masalah kerusakan dan ruangan kotor itu tadi,salah satu sifat Egois dia dan senioritasnya. dan saya yakin kepala sekolahpun mengerti hal demikian, secara maintenance butuh waktu yang tidak sebentar bukan. bagaimana tanggapan dari kepala sekolah sendiri saya yakin kepala sekolah tidak bangga dengan RIO, karena bahasa dia yang terlalu egois, menyampaikan hal-hal sensitif langsung dengan gamblang, seperti upah, seorang guru tok, tidak mau ini itu. tapi kepala sekolah pasti hanya akan bersikap menghargai Rio karena pengalamannya.

    kesimpulang : ladang tetap jalan, Rio tetap disana, bapak kepala sekolah tidak bangga, tetapi hanya menghargai dedikasi Rio selama 15 tahun.

  4. Rio dipecat karena bekerja hanya untuk upah saja ga ada ketulusan . Pak kepala sekolah tidak bangga kpada Rio

  5. Yang terjadi kemudian adalah adanya barang yang hilang dan ladangpun menjadi rusak. Ini disebabkan karena Rio tidak bisa merawat bahkan terkesan dia yang menghilangkan barang tersebut. Sebagai tambahan, sikap Rio yang mengesankan “money oriented” dalam bekerja, menjadikannya tidak bekerja secara ikhlas dan bersungguh-sungguh. Sehingga ladang menjadi rusak karena dia merasa itu bukan tanggungjawabnya. Tidak adanya pengabdian dalam sikap Rio.

    Bapak Kepala Sekolah bukannya bangga dengan perbuatan Rio, melainkan akan memberikan sanksi yang tegas terhadap kelakuan Rio yang lalai tersebut (Pemecatan tidak mungkin dilakukan saat ini, mengingat Rio sudah bekerja selama 15 tahun di Sekolah tersebut). Jika Rio tidak dapat menjaga dan merawat ladang tersebut, tidak ada alasan Bapak Kepala Sekolah untuk tidak memecatnya… 😎

  6. Menurut perkiraanku, pak kepsek selaku bos akan berpendapat bahwa Rio tak mau bersikap kurang lebih. Ladang itu kan juga merupakan milik Rio, sehingga tak ada salahnya memperhatikan hal-hal lain disamping tugas pokoknya. Kira-kira begitu pendapat si bos.
    Kejadian seperti itu mengingatkanku pada tempat tempat kerjaku. Seorang karyawan yang memiliki ekstra pengetahuan kemudian menjadi ‘andalan’. Saat ada yang rusak atau perlu diperbaiki, iapun dipanggil. Saat aku melihat kejadian ini, sebenarnya menurutku rekanku itu patut berbangga, karena ia memiliki nilai lebih dibanding yang lainnya. Namun kemudian saat melihat ternyata ekstra pekerjaan itu juga memperpanjang jam kerjanya, aku jadi kasihan. Hatiku berucap, “mengapa tak ada kebijakan dari bos?”

    • Terima Kasih atas partisipasinya.Silakan menunggu kelanjutan kisahnya sekaligus pengumuman untuk pemenang. 😉

  7. Awang2an lho ya, jare kon awang2an si .. Hihihi..
    Rio sing ndue ladang, Rio guru, tp Rio egois.. Nek aku dadi kepala sekolahe ngaweh pengertian maring Rio ndisit, nek dadi petani kan ora mung nandur trys ngenteni panen lan olih duit.
    Nah semono uga pada bae karo rio, walopun Rio guru, sing menguasai ladange Rio dewek, kudune ya bisa ngejaga apa sing wis dinehin nang kepala sekolah, yaiku kepercayaan ngejaga ladange kui mau, kudune ya ora mung ngajar thok, merawat ladange juga perlu, nek pengen panen, maksud panen neng kene kui adalah menikmati hasil sing wis dikerjakan selama ini. Nek komputere rusak krn Rio ra gelem ngerti lan gak gelem tanggung jawab, pie Rio bisa ngajar? Komputer rusak, ora ngajar akibate ora olih duit. Dadi ya kudune kepala sekolahe ngaweh pengertian sing temenan, nek Rio tipene wong sing egois, ya kudune tegurane ati ke ati, ora bisa mung nganggo lisan..

    Idih, dawa banget?? Hehehe

  8. oke, aku jawab ya, mba. ini menurut pendapatku ya.
    setiap pekerjaan ada tanggungjawabnya masing-masing. sesuai dengan kesepakatan. jadi ketika kepala sekolah memerintahkan untuk menjadi pengajar, ya tugasnya sampai di situ aja. karena tugas manitenance adalah tugas teknisi, tugas bersih-bersih adalah tugas tukang kebun (kalo diseolahku biasanya gitu), tugas buat ganti yg hilang ya dari sekolah. dipikir lagi, jika ada lembur, harusnya dia tetap mendapatkan hak uang lembur. kalo ga ada, ya udah, protes. ini karena apa? biasanya di sekolah2 negeri suka main serampangan aja, lembur ya dibiarin aja. padahal kerjaan seabrek. dulu aku pernah dicurhati temen yg ngerjain web kampus buat kegiatan KKN, dia yg rekap datanya, dia yg desain webya, dia yg maintenance, dia yg urus semua keluhan mahasiswa. orang yg lain mana? kok kayaknya cuma dia aja seorang yg ngurusin. hadehhh. parah banget. jadi, kalo aku bilang. lembur itu wajib dibayar lho. aku paling anti lembur ga dibayar. karena sayang sama diri sendiri aja. di luar sana orang mau kok bayar pikiran kita dengan uang lebih besar. atas nama pengabdian, tetap aja sih sebuah tanggung jawab dari sekolah untuk memakmurkan para gurunya sesuai dengan apa yg dilakukan.

    kalo dibilang kok ga mau bersih2, ya memang dia pembantu -.-”
    itu aja sih. bukannya gimana-gimana. klo keterusan akhirnya malah jadi kebiasaan. dan susah buat menolaknya lagi. dan terpenting, kita selalu punya prioritas dalam hidup masing-masing, jangan sampai mau tidak dibayar atas hasil kerja keras kita.

    • yg terjadi di ladang itu mungkin bakal berantakan, ga ada yang urus, klo ilang ga ada yg ganti kalo orangnya kayak Rio. tapi soal bangga membanggakan. kita memang harus punya batasan atas tanggungjawab kita. jangan sampai deh disuruh ganti barang yg ilang padahal kita ga make juga. tekor di ongkos.

  9. yisha pening………
    *ini fanspage idah?

  10. “Ini Ladang saya, saya di sini seorang guru. Tugas seorang guru adalah mengajar. Jadi, jika ada barang yang hilang, kerusakan, ruang kotor dan manintenance, itu bukan tanggungjawab saya. Kalaupun saya ditugaskan untuk maintenance, harus ada upah tersendiri, diluar upah wajib”. Jelas Rio kepada beberapa sahabatnya dan Bapak Kepala Sekolah di sebuah ladang.
    ***
    Beberapa hari kemudian, sesuatu yang kebalikan terjadi pada ladang tersebut. Rio dengan ikhlas membersihkan tempat yang dirasa kurang bersih, mengembalikan barang yang tidak pada tempatnya, ketika ada listrik yang mati, tak menunggu lama Rio bergerak cepat sekali memperbaikinya.

    Kepala sekolah yang menyaksikan semua yang terjadi cukup takjub, Rio yang dikenal seorang penghitung, berubah menjadi nothing to loose. Kepala Sekolah, akhirnya memberikan apresiasi, berupa tambahan penghasilan untuk Rio.

    Rio berkata, “Semua ini berkat ilmu hitung saya, Pak. Jika saya menyebar benih kebaikan pasti saya akan menuainya, entah kapan”

    Mba Idaaaaaaaah, akhirnya aku komentar di sini, bener enggak….monggohlah,

  11. Kuisnya unik … bagi pulsa de’ .
    cepet banget DL nya, besok harus segera dikumpulin.
    #mikir 🙄

  12. Mungkin karena background saya juga sama mengajar di TKJ, saya ingin sumbangsih meski ini secara subyektif. Hihihi harap maklum ya mbak Ida 🙂
    Figur Guru sebagai sosok “Digugu lan Ditiru” seharusnya bisa memposisikan diri lebih bijak dalam arti keseluruhan tidak hanya memikirkan materi melulu saja. Sudah seyogyanya, seorang yang berkomitmen memilih profesi ini harus bisa menyikapi secara legowo dalam kondisi apapun.
    Karena saya berusaha semampunya juga menjaga komitmen, sebagai pengajar sebelum/sesudah praktek harus handarbehi (mempunyai rasa memiliki) ikut menjaga dan merawat yang menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari. Seperti misalnya mengembalikan tang/obeng yang berceceran bahkan mengembalikan Hardisk yang berserakan setelah digunakan praktek.
    Saya tidak mau makan “GAJI BUTA”, saya berusaha menunjukkan dedikasi serta loyalitas yang tinggi meski income yang saya dapat tidak sesuai harapan.
    Jadi jika saya yang menjadi kepala sekolah seperti cerita diatas, tentunya saya prihatin dengan sikap seorang Guru seperti Rio, yang kurang loyalitas dengan ladangnya bekerja.Meskipun dia telah berjasa puluhan tahun lamanya.

  13. Sangat disayangkan sikap Rio, dan jelas kepala sekolah tidak menyukai apa yg dilakukan Rio.
    namun disinilah sebenarnya kepala sekolah sendiri diberikan ujian menghadapi anak buahnya dengan aneka persoalannya. Rio hanya perlu mengesampingkan pemahaman tentang rasa yang selama ini dia pegang, yakni egois yang berlebihan dari sisi pekerjaan (jare wong jowo, ga’ entengan). Tidak ada salahnya kepala sekolah memanggil Rio duduk bersama mendengarkan keluhan yang selama ini belum diungkapkan oleh Rio, barangkali ada beberapa sebab yang membuat Rio bersikap seperti itu. Lalu kepala sekolah memberikan pengertian arti penting dari kerjasama, lalu memberi dia kesempatan sekali lagi agar setiap pekerjaannya bisa dipertanggungjawabkan, tapi kalau sudah melanggar aturan2 lagi ya … mo gimana lagi, keluarkan saja Rio dari tempat kerjanya … sekian Je’ nanti malah kepanjangan endingnya jd ngawur. Bagi pulsa dunk …

  14. Selang beberapa minggu, kira-kira apa yang terjadi di ladang tersebut? Apakah Bapak Kepala Sekolah bangga terhadap anak buahnya yang seperti Rio?

    Selang beberapa minggu, terjadi perubahan, meskipun banyak rekan kerja sesama pengajar ada yang mencibirnya,ada yang memberi tatapan sinis atas prinsip ladang ala Rio, ada pula sebagian yang mendukung penuh atas gebrakan baru dari seorang abdi ilmu seperti Rio, contohnya sahabat baiknya, Zidni. Semua berjalan normal bahkan lebih baik. Murid-murid semakin mengerti arti tanggung jawab, sama-sama mengurus dan merawat segala benda yang ada di ruang multimedia. Meski terkesan, materialisme, jalan pikiran Rio tentu benar, mengingat segala sesuatu adalah amanah. baik itu jabatan, ataupun harta benda semua akan dipertanggung jawabkan. Prinsip Rio, menjalar dengan tujuan agar setiap manusia bertanggung jawab penuh atas segala yang di punya. Menjadi manusia yang berarti bagi manusia lain. Bapak Kepala Sekolah sudah sepatutnya bangga dan memberikan apresiasi terhadap anak buah seperti Rio, yang berani,tegas, dan berprinsip yang kuat.

    Nama: Nur Gusti Azizah
    Akun Facebook: http://www.facebook.com/nur.g.azizah

  15. So Amazing ,,, 😀

    Jika saya berpandangan sebagai kepala sekolah :

    Sebenarnya jika kita memandang pekerjaan adalah Ibadah, maka maintenance dan segala yang ada didalamnya menjadi mudah dan ringan untuk dikerjakan tanpa harus memandang Koin yang akan kita terima. Namun, jika secara profesional kerja apa yang menjadi fikiran RIO adalah benar adanya. Setiap pekerjaan memang punya porsi masing-masing, dan itu patut untuk dihargai. Maintenance adalah pekerjaan teknis, sedangkan mengajar adalah pekerjaan non teknis dan telah tertera dalam perjanjian kepegawaian.
    Berfikirlah bahwa kerja itu adalah ibadah, segala yang kita lakukan teruslah berharap dengan ALLAH.
    😉 😉 😀

  16. Konon kabarnya, guru diadopsi dari kata bahasa Jawa. Digugu dan ditiru. Jadi definisinya luas. Setiap orang adalah guru bagi kita. Kita juga begitu.

    Menjawab dengan hati.. Hmmm.. apa ya? Sek Mbak, nyruput kopi dulu.

    Saya rasa, Kepsek tidak akan bangga dengan Rio, meskipun masa pengabdian Rio sudah 15 tahun. Sebab Rio terlalu berpikir ekonomis. Padahal guru yang baik adalah dia yang menceburkan diri di dunia mengajar atas nama hati nurani, bukan atas nama gaji dan tunjangan lainnya.

    Ngincer pulsa 5 ribu, hahahaaa…

  17. Dwi Aprilytanti Handayani

    Halooo mbak saya newbie, boleh ya ikutan kuis menarik ini :D.
    Analisis saya : Kebetulan Bapak kepala sekolahnya orang bijak, beliau tidak memecat Rio seperti di skenario sinetron Indonesia pada umumnya, ladang itu berjalan seperti biasa, dan Sang Pemilik Ladang (Kepala Sekolah) berbicara di depan para peladang /buruh tani (para gurunya) : “kembali kepada perjanjian yang telah kita sepakati , dalam poin itu tercantum : kewajiban guru adalah mengajar dan tugas-tugas lain yang akan diberikan kemudian, di sini termasuk maintenance dan memperhatikan kondisi anak didiknya, namun demi kebaikan semua pihak mulai saat ini akan diterapkan sistem penilaian bagi semua guru dan ada bonus khusus bagi mereka yang dianggap berprestasi dan menunjukkan dedikasi tinggi” 🙂 . Fair Enough

  18. Ladang tersebut akan terjaga dan terawat dengan baik, karena Rio berkonsentrasi dan bertindak profesional sesuai dengan tugas dan kewajibannya. Jika ada barang yang hilang, kerusakan, ruang kotor dan manintenance, itu bukanlah tanggungjawabnya, karena memang sudah ada orang lain yang di tugaskan dan bertanggung jawab dalam bidang-bidang tersebut. Kalaupun Rio ditugaskan untuk maintenance karena kekurangan orang, memang seharusnya ada upah tersendiri diluar upah wajib. Karena pekerjaannya itu, tidak ada dalam perjanjian yang telah disepakati masing-masing pihak. Tentu saja Bapak Kepala Sekolah bangga terhadap anak buahnya yang seperti Rio, buktinya dia hampir 15 tahun mengabdi di Sekolah ini, karena telah menjaga dan merawat “sawahnya” dengan baik. 😀

  19. ladangnya jadi gempar ya …
    ttg Bp kpl sekolah, hhhmmm kasih tahu nggak ya … :mrgreen:

  20. Selang beberapa minggu, akan adabarang yang hilang di ladang itu. Entah beberapa komputer yang raib ataupun ke-eroran sistem jaringan.

    saya kiraaa Pak Kepala Sekolah tidak akan berdiam diri terlalu lama. Tugas utama Guru memang mendidik, tetapi mendidik bukan hanya tentang ilmu pengetahuan atau pelajaran, tetapi juga tentang moral dan prilaku bersosialisasi. Manusia ialah makhluk sosial, saling membutuhkan. Walau ladang guru ialah di kelas, namun sarana – pra sarana yang dipakai untuk mengajar menjadi tanggung jawab guru.

    Pak Kepala Sekolah bisa saja ‘mengeluarkan’ atau minimal memberikan surat peringatan pada Rio. Sikapnya yang dirasa cuek, bisa menimbulkan kerugian. Bisa saja kan barang yang ada di ruang TIK hilang karena keteledorannya menjaga ataupun memang sengaja mengacuhkan yang ada di sana? Bisa saja ada yang usil, karena tidak suka dengan Rio lalu barang yang ada di ruang TIK diambil dan membuat Kepala Sekolah menuduh Rio, padahal Rio cuek bebek.

    Pak Kepala Sekolah tidak akan pernah merasa bangga dengan anak buahnya yang tidak memiliki sikap loyal, hanya bekerja di ‘ladang’ tanpa berusaha mengembangkan dan menjaga barang-barang yang ada di sana dengan baik.

  21. wah..telat aku mengetahui lomba ini 🙂

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: